Jumat, 01 September 2023

Tugas Modul 1.1


Assalamu'alaikum Warohmatulohi Wabarakatuh. 

Pada kesempatan ini saya akan memaparkan salah satu tugas Modul 1.1 Tentang :

Konektivitas Antar Materi Berupa Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Oleh : Sri Wiyanti, S. Pd.
Guru SMPN 1 MONTA KAB. BIMA

Menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan adalah tempat persemaian  benih-benih  pendidikan dan kebudayaan. Ki Hajar Dewantara membedakan Kata pendidikan dan Pengajaran, (Pengajaran adalah bagian dari Pendidikan). Pendidikan memberi tuntunan sesuai kodrat yang dimiliki anak agar mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat.

Dalam menuntun kodrat anak, guru ibaratkan seorang petani. Mencoba memberi ruang tumbuh kembang yang sesuai dengan maksimal. Anak diberikan kebebasan namun seorang pendidik tetap menjadi pamong, mendampingi dan mengarahkan potensi anak didik. 

Pendidikan anak itu harus disesuaikan dengan tempat di mana mereka tumbuh (kodrat alamnya) dan tuntutan masa atau zamannya (kodrat zaman). Meski anak didik diberikan kebebasan memilih dan menentukan cara terbaik bagi pengembangan potensi dirinya, dalam interaksinya anak didik harus
mampu memfilter pengaruh buruk dari luar sehingga tidak membawa implikasi negatif bagi tumbuh kembangnya. 

Analoginya, jika menanam jagung maka perlakukanlah dia sebagai jagung, jangan memperlakukannya seperti padi atau tanaman lain. Dan bila ingin jagung itu tumbuh secara maksimal maka biarkan dia tumbuh dengan cara dan tempat yang semestinya. Gulma dan aneka tanaman pengganggu cukup disiangi dan dibersihkan agar tanaman tetap tumbuh dan menghasilkan secara maksimal. Demikian pula dalam mendidik anak. 

Sebagai seorang pendidik saya memosisikan diri sebagai layaknya seorang  tukang kebun. Dan anak didik ibaratkan berbagai jenis tanaman bunga aneka rupa. Mereka diperlakukan sesuai kebutuhan tumbuh kembangnya sehingga pada saatnya mereka akan menguncup dan mekar sempurna dengan warna-warni indah mengagumkan. Menebar kemanfaatan bagi diri dan lingkungannya. 

Prinsip seorang Pamong, dalam hal ini adalah sebagaimana semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. Di depan menberikan contoh keteladanan yang baik, di tengah mendampingi dengan berjuta ide dan gagasan membangun serta di belakang memberikan dorongan memantik semangat. 

Pendidikan adalah sebuah proses yang harus terus berlangsung, memerlukan kerjasama yang sinergis dari semua pihak untuk mewujudkannya karena merupakan pekerjaan untuk menjemput peradaban sehingga prosesnya tidak boleh terhambat. 

Bagaimana penerapan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara ini dalam konteks pembelajaran lokal masyarakat Bima? Praktik ini dapat kita temukan pada interaksi di masyarakat dalam berbagai aktivitas keseharian seperti pada serangkaian kegiatan 'mbolo weki' yang umumnya dijumpai pada rangkaian upacara perkawinan, khitanan, selamatan berangkat haji dan masih banyak lagi kegiatan semisal. 

Lebih khusus di lingkungan sekolah berupa pembiasaan  menggunakan budaya tutur yang baik seperti 'Maja labo Dahu, Kalembo Ade, Santabe, dan juga penerapan konsep kepemimpinan sebagaimana yang dikenal dengan istilah 'Nggusu Waru' dalam masyarakat Bima ( Dou Mbojo).


Sebagai refleksi terhadap pemikiran Ki Hajar Dewantara saya akan mencoba memaparkan dengan panduan pertanyaan di bawah ini. 

1. Apa yang anda percaya tentang murid dan pembelajaran sebelum mempelajari modul 1.1? 

Konsep pedidikan pemikiran Ki Hajar Dewantara ini sebenarnya bukanlah satu hal yang asing atau baru. Karena sebelum saya mengikuti kegiatan Calon Guru Penggerak Angkatan 9 saya sudah sering mendengar dan membaca konsepsi ini. Berawal dari kebiasaan saya yang suka membaca, sehingga ketika  mendengar ada hal-hal baru terkait pendidikan membuat saya terdorong untuk mencari tahu. Dengan dasar itu saya mulai menerapkannya pada murid-murid saya. Meski sesederhana mungkin menyesuaikan dengan kondisi sekolah dan kesiapan peserta didik. 

Saya meyakini bahwa setiap manusia telah dibekali potensi kebaikan dan juga keburukan. Demikian juga dengan peserta didik. Sebagai Guru tugas saya adalah berusaha menemukan potensi kebaikan itu dan mengasahnya dengan baik agar tajam. Dengan tajamnya potensi kebaikannya maka potensi negatif dengan sendirinya akan terkalahkan. 

Menyadari hal tersebut, saya memandang peserta didik bukanlah kertas kosong yang dapat kita corat-coret semau kita. Namun sekali lagi kesadaran tersebut masih memerlukan penguatan karena tanpa saya sadari masih sering mengagung-agungkan nilai kognitif atau angka-angka pada lembar tugas mereka. Masih sering merasa kecewa dengan peserta didik yang kurang memenuhi target-target nilai yang sudah sedemikian saya rancang. 

2. Apa yang berubah dari pemikiran dan perilaku anda setelah mempelajari modul ini. 

Setelah mempelajari modul 1.1 tentang Konsep Pemikiran Ki Hajar Dewantara, apa yang saya pahami sebelumnya akhirnya mendapatkan penguatan. Saya semakin berusaha untuk menjadikan pembelajaran yang berpusat pada murid. Pembelajaran  yang menumbuhkan  karakter positif. Lebih banyak mendengarkan mereka. Lebih banyak memberi ruang bagi mereka untuk menyampaikan keinginannya. Tidak mudah terpancing dengan sikap-sikap negatif yang ditunjukkan, namun justru menjadikannya kesempatan untuk mencoba melihat sisi positif di sebaliknya. Dengan mengarahkan serta menuntun mereka ke arah nilai-nilai kebaikan. 

Secara pribadi saya semakin serius menyiapkan diri, mengasah kemampuan pada banyak kompetensi yang belum saya miliki sebelum saya mengajak anak didik untuk berubah. Keteladanan harus dimulai dari saya sebagai guru agar ketika berbicara maka akan menjadi sangat efektif untuk dicontohi. 

Mencoba mengembangkan pembelajaran yang inovatif dan kolaboratif dalam kelompok-kelompok diskusi kecil. Memantik rasa percaya diri peserta didik dengan pemberian tugas secara bergilir, mengerjakannya dengan sinergis, memberi kesempatan seluas-luasnya bagi mereka untuk mengkomunikasikan hasil tugasnya di depan kelas sehingga menghadirkan sikap optimistis.

Dari pembelajaran di modul 1.1 ini saya merasa termotivasi secara pribadi karena potensi saya sebagai guru juga ikut terekspos dengan tagihan tugas-tugas yang variatif dan menantang. Dipacu untuk memaksimalkan kemampuan yang ada pada diri dengan menggali terlebih dahulu potensi diri sebelum menularkannya kepada orang lain. 

Satu hal lagi yang semakin saya sadari bahwa untuk keberhasilan pendidikan, baik lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat harus ada kesamaan visi dan misi. Ada jalinan komunikasi yang selaras dalam mewujudkan visi dan misi pendidikan. Salah satu dari ke tiganya tidak boleh abai dalam memainkan perannya masing-masing. Bahu-membahu memberikan kontribusi bagi kemajuan pendidikan. 

3. Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas anda mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara?

Seperti yang sudah saya jelaskan pada dua poin di atas, bahwa inti dari pemikiran Ki Hajar Dewantara ini sebenarnya sudah saya pahami dan sudah saya lakukan dalam kelas-kelas belajar selama ini. Hanya saja belum maksimal. Karenanya setelah mendapat materi yang lebih lengkap dan pemahaman saya lebih komprehensif terkait hal tersebut maka saya memiliki tekad yang kuat untuk segera mengaplikasikannya dengan lebih baik, dan lebih terarah dalam pembelajaran di kelas. 

Saya akan berusaha lebih fokus pada apa yang diinginkan dan dibutuhkan peserta didik dalam pembelajaran. Dengan tetap menekankan pada pentingnya adab dan akhlak terpuji sebagai penghias dari ilmu pengetahuan yang dimiliki. 

Saya ingin lebih bisa mengedepankan prasangka baik dengan apa pun kondisi peserta didik yang saya temui. Mengasah kepekaan, melibatkan seni dalam mendidik serta menghadirkan cinta. Karena pekerjaan mendidik sesungguhnya kita sedang mengisi ruang-ruang hati peserta didik dengan ilmu yang kita harapkan kelak bermanfaat baik dirinya dan orang lain serta masyarakat luas. Pendidikan yang melibatkan rasa cinta pasti akan lebih dapat diterima dan melekat kuat di hati peserta didik. 

Berbekal kemampuan yang saya miliki, saya tetap ingin menjadikan kelas-kelas yang kondusif, di mana peserta didik diharapkan tak hanya cerdas dan berkarakter baik namun juga menikmati proses belajarnya dengan bahagia.


Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. 

Terima kasih. 
Salam Guru Penggerak! 

Tergerak, bergerak, menggerakkan. 

Wassalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh.

KONSEP KEPEMIMPINAN PADA FILOSOFI NGGUSU WARU

Sebuah Konsep Kepemimpinan Pada Filosofi Bima Nggusu Waru

Oleh ; Sri Wiyanti, S.Pd.

Secara definisi Nggusu Waru adalah sebuah tradisi sosial berupa budaya tutur pada masyarakat Bima (Dou Mbojo) yang diwariskan secara turun temurun, berupa sebuah harapan untuk mencapai sebuah cita-cita mulia, yakni terciptanya sebuah masyarakat madani.

Nggusu berarti sudut dan Waru berarti delapan. Sebuah filosofi yang menggambarkan delapan sudut pandang  kehidupan orang Bima yang memuat nilai moral, budaya dan serta agama yang tentu bersumber dari pemahaman ke Islaman yang kental dari masyarakatnya. 

Delapan dimensi universal yang dianut oleh masyarakat Bima ini adalah ;

1. To'a di Ruma ro Rasu (taat) 
Kalimat yang memiliki makna mendalam akan kewajiban untuk mena'ati Allah dan Rasul-Nya dalam peribadatan atau pun dalam interaksi sosialnya. 

2. Maloa ro ma Bade (cerdas) 
Artinya menunjuk pada pentingnya proses belajar, menuntut ilmu sehingga orang Bima harus memiliki kecerdasan dan wawasan yang luas. 

3. Mantiri Nggahi ro Kalampa (jujur
Adanya kesamaan serta keselarasan antara kata dan perbuatan. Di dalamnya secara inplisit ada nilai kejujuran yang harus dijunjung tinggi. Menggambarkan karakter pribadi yang dapat dipercaya. 

4. Mapoda Nggahi ro Paresa (adil) 
Senantiasa berkata benar dan berpihak pada kebenaran. Menetapi rasa keadilan bagi semua orang tanpa memandang bulu atau membeda-bedakan status sosial. 

5. Mambani ro Disa (Bertanggung jawab) 
Mambani di sini secara bahasa berarti pemarah. Namun dalam konteks Nggusu Waru maknanya lebih kepada adanya sifat kesatria, membenci perbuatan melanggar norma adat, budaya lebih-lebih agama. Memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap amanah atau tugas yang diemban. 

6. Matenggo ro Wale (sehat dan kuat) 
Menggambarkan keharusan bagi orang Bima untuk memiliki fisik yang sehat lagi kuat. Sehat paripurna antara jiwa dan raga. 

7. Ma Bisa ro ma Guna (berwibawa dan berpengaruh) 
Jika dimaksnai langsung arti katanya berarti berwibawa dan sakti. Wibawa yang muncul dari berkumpulnya nilai-nilai ketaatan, kecerdasan, kejujuran dan karakter positif lainnya. Serta kesaktian dalam pengertian tutur kata serta prilakunya memberi pengaruh luas. Apa yang diucapkan dan dilakukan akan mendapat  tanggapan dan dukungan dari orang lain karena senantiasa menebar manfaat bagi lingkungannya. 

8. Londo Dou Mataho (Keturunan yang baik) 
Kalimat pamungkas ini menunjuk pada sikap moral yang baik. Melihat kemampuan seseorang berdasarkan keturunannya. Seperti dalam budaya Jawa kita mengenal istilah menilai seseorang dari bibit, bobot dan bebetnya 

Filosofi Nggusu Waru yang diusung masyarakat Bima atau Dou Mbojo merupakan sebuah nilai universal yang cocok diterapkan dalam semua lini kehidupan. Apabila kita tarik korelasi filosofi Nggusu Waru dengan filosofi Ki Hajar Dewantara terkait semboyan Ing Ngarsa Sung Tolodho, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani keduanya seiring sejalan, sama-sama menjadi rel perjalanan hidup yang lurus dan kokoh. 

Jika pada Filosofi KHD memberikan rambu-rambu tentang bagaimana seseorang berbuat atau berlaku sebagai bagian dari masyarakat atau terkait dengan tugas kepemimpinannya, maka pada filosofi Nggusu Waru lebih pada penekanan tentang bagaimana karakter yang harus ada pada diri seseorang, pada semua bidang profesi yang diemban, lebih-lebih mereka yang diamanahi tugas kepemimpinan.

Filosofi Nggusu Waru dalam kehidupan lingkungan sekolah perlu diterapkan sehingga lestari sebab di dalamnya ada nilai ketaatan/religius, nilai kejujuran, nilai keadilan, tanggungjawab,  kepemimpinan dan budi pekerti yang harus dimaknai dan diaplikasikan secara mendalam oleh anak-anak dalam kehidupan nyata. 


Talabiu Bima, 24 Agustus 2023

Sebagai penutup izinkan saya membacakan sebuah puisi tentang NGGUSU WARU. Salah satu puisi saya yang dimuat di Harian Lombok Pos. 

Nggusu Waru


By : Sri Wiyanti


Agung
Tradisi mulia
Dana mambari mengusungnya
Cita Citra Dana Mbojo


Taqwa
Penyanggah utama
Loa ro bade mengokohkan
Ruku ro rawi menghias indah


Jaga
Nggahi ro eli
Perjuangkan mori ra woko
Mbani ro disa menjadi tamengnya


Keta'atan
Langkah ikhtiar
Dunia dikecap sewajarnya
Mendulang pahala bermuara ridho-Nya


Taqwa
Erat mendekap
Filosofi Nggusu Waru
Dana Mbojo pasti maju



Catatan di perjalanan sepulang sekolah
Bima, 24 Maret 2022

Minggu, 18 Desember 2022

MENGGALI PENGALAMAN PRIBADI SEBAGAI IDE MENULIS



 Oleh : Sri Wiyanti

Semua ada masanya, tugasku adalah mempersiapkan diri menjemput masaku dengan kebaikan dan hal-hal positif. Mempersiapkan diri untuk sesuatu yang baik tidak akan membuat kita rugi. Justru ketika masanya tiba, kepercayaan itu datang, amanah akan mudah kita tunaikan. 

Berawal dari undangan DILOVA VOL. 2. Berlanjut pada kegiatan mengisi PODCAST POJOK LITERASI BERADAB. Tanpa diduga ternyata berlanjut lagi dengan kegiatan DILOVA VOL. 3 di hari yang sama. 

Pada Allah tentu pertama ucap syukur kupanjatkan. Sebab tanpa izin dan skenario-Nya tentu kepercayaan ini tidak akan pernah menghampiri. Bersyukur pula bertemu dan mengenal orang-orang positif sehingga terpercik pula kebaikan pada diri kita. Tidak merugi berada dalam lingkaran kebaikan meski menurut penilaian manusia terlihat remeh temeh.

Berbagi tips-tips menulis bagi pemula. Mencoba menggali pengalaman pribadi untuk menjadi ide menulis menjadi topik menarik. Mudah dan terjangkau dan tentu menghindarkan kita dari plagiasi. Sangat tepat untuk penulis pemula. 

Bagaimana langkah-langkahnya?

1. Ketika memilih tema pengalaman pribadi, maka langkah pertama adalah memilih pengalaman yang benar-benar bisa membangkitkan emosimu. Bisa tentang sesuatu yang sangat menyenangkan, menyedihkan, menegangkan, sangat lucu atau keadaan lain yang sangat mempengaruhi pikiran, tindakan dan hatimu. 

2. Selain menggali pengalaman yang dapat memantik emosi. Kita tentu pernah berada pada suatu keadaan di mana kita harus memilih. Pilihan keputusan ini adalah sesuatu yang sangat berpengaruh  terhadap masa depan kita. Dan ini dapat menjadi salah satu ide menulis pengalaman pribadi. 

3. Langkah yang tidak kalah penting adalah, membuat outline dari tulisan yang akan kita buat. Outline ini akan memudahkan kita dalam mengembangkan alur tulisan. Selain itu berfungsi ketika kita kehilangan ide, catatan pada outline ini akan memandu memberikan gambaran kelanjutan dari naskah yang akan kita buat. 

Tentu saja outline ini tidak harus berurutan karena tergantung dengan alur cerita yang kita pilih. Apakah alur maju atau alur mundur. Dan bisa juga memadukan keduanya. 

4. Pengalaman pribadi tiap orang tentu banyak dan beragam. Agar fokus dalam menulis maka pilihlah satu pengalaman yang sangat berkesan sehingga ketika menuangkannya dalam tulisan akan mampu mencapai klimaks yang memuaskan bagi kita sebagai penulis dan tentu saja muaranya juga pada kepuasan pembaca. 

Tentu dari setiap tulisan yang kita buat, satu yang tidak boleh terlupakan adalah pesan kebaikan yang ingin kita sampaikan. Amanat yang kita selipkan karena itu lah kata kunci dari menulis.  Menjadi sarana menyampaikan ide-ide kebaikan sehingga menular pada setiap pembaca. 

Semoga tips singkat ini bermanfaat. 

Kegiatan Dialog Literasi Inovasi dan Pembuatan Karya Literasi
Vol. 3
Kampus  STKIP TAMSIS Beradab. 
Rabu, 23 November

Ruang kelas sembari mengawas PAS. 
Tangga, 08 Desember 2022

Senin, 20 Juni 2022

Mengenal Puisi Patidusa

 
Oleh : Sri Wiyanti

Perkembangan puisi modern di Indonesia memiliki banyak warna. Salah satunya adalah puisi Patidusa. Kehadiran puisi Patidusa memperkaya khazanah puisi modern di tanah air. 

Puisi Patidusa baru dipublikasikan pada tanggal 9 Agustus 2015 oleh Agung Wibowo. Hanya saja jenis puisi ini baru dikukuhkan delapan belas hari kemudian yakni pada tanggal 27 Agustus 2015.

Perbedaan mendasar puisi Patidusa dengan puisi klasik adalah pada tipografi (susunan larik-larik sajak) puisinya. Meski demikian tidak mengurangi nilai keindahan dan eksistensinya sebagai salah satu jenis puisi modern. Justru kehadirannya memberi dinamika tersendiri bagi dunia perpuisian di Indonesia. Mempercepat arus revolusi sastra. 

Patidusa merupakan karya dari seorang pemuisi bernama Agung Wibowo. Di mana puisi ini adalah sebuah perubahan evolusi dari puisi sebelumnya, yakni Lipatdus (Lima, empat,tiga, dua, satu).
Penyematan nama Patidusa justru diberikan oleh temannya bernama Agus Supriyadi. Penamaan yang disesuaikan dengan format puisinya yakni 4 (empat) kata, 3 (tiga) kata, 2 (dua) kata dan 1 (satu) kata. 


Jenis Puisi Patidusa

Puisi Patidusa memiliki empat (4) formasi atau bentuk :

1 Patidusa Asli/Original dengan susunan 4-3-2-1, 1-2-3-4, 4-3-2-1 dan seterusnya. 

Contoh :

Tentang Kita

Debur ombak memecah pantai
Semilir angin menyejukkan
Dua hati
Berpadu

Syahdu
Membuai kalbu
Dua hati berjanji
Untuk saling setia membersamai

Pantai ini jadi saksi
Ketika ikrar terucap
Rekatkan ikatannya
Setia

Bila
Kemurniannya diuji
Ikhlaskan adalah kuncinya
Mendekat padanya menjadi solusi

2. Patidusa Bias dengan susunan :
1-2-3-4, 4-3-2-1,1-2-3-4 dan seterusnya. 

Contoh :

Membasuh Luka

Sakit
Menukik ke hati
Menyisakan luka menganga
Lisan mengoyaknya melampaui belati

Rasa itu hanya menyakiti
Usah simpan di hati
Biarkan pergi
Hempaskan

Lari
Menjauh pergi
Memintal benang kemaafan
Hingga lara terlerai masa

Pada-Nya kita kembali memasrahkan
Mendekap mesra keikhlasan
Merengkuh takdir
Damai

3. Patidusa Cemara dengan susunan 
1-2-3-4, 1-2-3-4,1-2-3-4 dan seterusnya. 

Contoh 1

Lelaki Tua

Luruh
Bersama peluh
Meski raganya rapuh
Tiada pernah lisannya mengeluh

Dia
Lelaki tua
Pejuang nafkah keluarga
Pada pundaknya bergantung bahagia

Bila
Bahagia menyapa
Pada ringkih langkahnya
Mengharap kuasa Pemilik Semesta

Bersyukur
Penguat jiwanya
Dunia hanyalah sesaat
Persinggahan jalan menuju keabadian

Saatnya
Siapkan bekal
Iman dan taqwa
Sebaik-baik bekal perjumpaan dengan-Nya


Contoh 2

RIMPU

Rimpu
Tembe nggoli
Mantika kala lomba
Makani sampela ntika moci

Rimpu
Mabonto kamoci
Honggo mame'e kalili
Pai daeda badou malelu

Rimpu
Desena syari'at
Bune kalea ntara
Dana Mbojo mana'e ntoru

Rimpu
Makantika majaga
Siwe mantika matupa 
Makakimbi taroa bune amarai

Rimpu
Tajaga kasama
Paida mborana dieda
Su'u sawa'u sia sawale

Talabiu Bima, 2 April 2022
1 Ramadhan 1443 Hijriah


4.Patidusa Tangga dengan susunan
4-3-2-1, 4-3-2-1, 4-3-2-1 dan seterusnya.


Pemenang

Malam pekat merayap perlahan
Mengisahkan perihnya luka
Tersimpan rapi
Rahasia

Seonggok hati terkapar lemah
Noda pekat menghiasnya
Gumpalan dosa
Mematikan

Meronta takkan menghapus duka
Istigfar sucikan kekalutan
Pilih jalanmu
Pemenang

Meski terseok tertatih merintih
Tapaki sepenuh sabar
Itu jalan-Nya
Ikhlaskan


Bagaimana membuat Puisi Patidusa

Keindahan bentuk Puisi Patidusa terletak pada susunannya yang meliputi sayap dan kerucut. Jenis Puisi Patidusa memiliki ciri khas yang apabila dibaca dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas pada baitnya tetap memiliki makna yang sama. 

Bentuk standar Puisi Patidusa:

A A A A

B B B

C C

D

E

F F

G G G

H H H H

Jumlah bait Puisi Patidusa

Sedikitnya adalah 2 (dua) bait dan 4 (empat) formasi pada penulisan Puisi Patidusa. Manakala belum menemukan format yang pas maka dapat diubah ke dalam bentuk lain. Tentu dengan tetap memperhatikan nilai keindahan, rasa, rima, runut dan imaji dalam puisi. 

Kesalahan Memaknai Puisi Patidusa

🍀 Memaknai sebagai sebuah penggalan kalimat. 
Bahwa puisi Patidusa bukanlah sebuah kalimat yang di potong. Tiap baris dari baitnya saling melengkapi bersatu padu. Namun baris-baris baitnya seperti memiliki makna yang berdiri sendiri. Baris sesudah atau sebelumnya seakan saling menjelaskan makna. 

🍀 Penggunaan kata hubung
Penggunaan kata hubung pada akhir baris menimbulkan asumsi pemenggalan kalimat yang menggantung makna puisi. 

Contoh salah :

Mendekapmu
Mimpiku yang
Ingin kulukis senyatanya
Melangit pintaku meraih asa

🍀 Penggunaan tanda elipsis
Puisi Patidusa tidak menggunakan tanda elipsis karena mempengaruhi keindahan pada kalimat puisinya. Cukup menggunakan tanda koma (,). 

🍀 Menghitung pengulangan kata menjadi dua kata. 
Pengulangan kata sempurna dan atau yang berawalan depan dihitung satu kata. 

Contoh :

Angan-angan
Anai-anai
Kanak-kanak
Sepoi-sepoi

Penulisannya bisa juga tanpa menggunakan tanda hubung misalnya : Anganangan, Anaianai, Kanakkanak, Sepoisepoi. 

Sedangkan pengulangan kata yang berubah bentuk dihitung 2 (dua) kata. 

Contoh ; 

Bintang gemintang
Kusut masai 
Tumpang tindih
Tumpah ruah

Selasa, 26 April 2022

Aman Bermedsos Tanpa Baperan



By ; Sri Wiyanti

Reaksi seseorang terhadap sesuatu itu sesuai dengan kadar keilmuan dan juga keimanannya. Sehingga untuk satu keadaan atau fenomena tertentu bisa memunculkan beragam reaksi. Ada yang suka dan tidak. Ada yang mendukung dan mengapresiasi. Ada juga cibiran dan nyinyiran. Ada yang mencinta dan membenci. Semua reaksi itu wajar saja selagi tidak sampai menghujat, karena isi kepala tiap orang berbeda. Maksud hati pun belum tentu sama. 

Ada postingan tentang tauhid, bagi pelaku kesyirikan bisa saja dipandang sebagai sesuatu yang dibenci. Larangan maksiat dianggap sok suci atau suka kepoin urusan orang. Meski di sebaliknya tetap ada yang mengambil pelajaran lalu bertaubat. 

Begitu pun ketika seseorang memosting aktifitasnya, kisah kesuksesan, capaiannya. Tentu tidak semua orang akan mengapresiasi, mendukung atau ikut merasakan kebahagiaan yang sama. Pun bisa jadi dipandang sok pamer, riya' atau sejenisnya. 

Mengisahkan kedukaan juga tidak serta merta membuat orang simpati apalagi berempati. Bisa jadi justru menuai cibiran atau sebaliknya menerima penghakiman. 
Begitu lah hidup selalu dihadapkan dengan dua sisi berlawanan. 

Melihat kisah tentang sebuah keluarga, ada saja komentar miring. Ah, belum tentu kenyataan seperti itu, paling juga pencitraan. Seperti itu lah pandangan manusia. Selalu pandai melihat celah kelemahan dari sisi kebaikan meski porsinya lebih banyak. 

Apakah lagi mendengar orang tua memuji anaknya, tidak sedikit nyinyiran akan disematkan. Meski sebenarnya memuji anak itu menjadi bagian fitrah orang tua. Selagi pujian tidak berlebihan dan tidak ada unsur kebohongan di dalamnya ya sah-sah saja. Jika ada perasaan tersinggung bagi pendengar, bukan berarti orang yang bercerita layak disalahkan. Justru kita lah yang meski memuhasabah diri. Jangan-jangan virus  iri hati sudah menjangkiti. 

Artinya setiap aktifitas kita tidak akan bisa lepas dari tanggapan serta komentar orang lain. Entah tanggapan positf atau negatif. Kalimat nasehat sekalipun yang disampaikan akan menuai reaksi berbeda. Bagi hati yang bersih nasehat akan dijadikan sebagai wasilah untuk terus menata diri. Sedang bagi hati yang ada penyakitnya akan dianggap sebagai sesuatu yang memerihkan. Nasehat puna da pendukung dan penentangnya. 

Lalu bagaimana sikap kita menghadapi kondisi demikian? Insya Allah beberapa kiat di bawah ini dapat kita praktekkan. 

1. Perjelas tujuan, niat kita harus jelas bahwa kita tidak akan memosting hal-hal  negatif, sesuatu yang buruk. Karena kita menyadari bahwa semuanya pasti akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Bukan kah tujuan kita hanya ridho-Nya semata? 

2. Pastikan ada pesan kebaikan dan hal-hal positif dari tulisan atau postingan kita. Bercita-citalah mengumpulkan kebaikan meski sedikit. Asalkan menjadi rutinitas kebaikan itu kelak akan menjadi besar. 

3. Kita tidak akan pernah mampu mengenyangkan selera manusia. Jadi fokus lah pada tujuan bukan pada cibiran atau nyinyiran. Sehebat apa pun kita menghindari tetap saja ada orang-orang yang tidak seide dengan kita. Menghindari orang-orang berpola pikir negatif akan sangat membantu kita menemukan ketenangan diri. 

4. Tanamkan keyakinan dalam diri bahwa semakin kita memancarkan aura kebaikan, maka kebaikan akan mendekat. Keburukan akan menjauh. Ini Sunnatullah.

5. Kita sedang mempersiapkan bekal perjalanan kita, bukan bekal perjalanan bagi orang lain. Maka persiapkan segala sesuatu yang kita perlukan agar perjalanan selamat hingga akhir tujuan, yakni surga-Nya. Pernak-pernik di sekeliling kita cukup direspon seperlunya. 

6. Tanamkan keyakinan, bahwa orang-orang baik lebih banyak di sekelilingmu, mendukungmu dibanding mereka yang tak sejalan. Jadi abaikan saja jika memang itu tak perlu. 

7. Ketika mencontohkan sebuah kisah sebagai pembelajaran. Hendaknya tidak menyebut nama orang secara langsung atau jelas. Karena teknik berkisah ini diperbolehkan. Bahkan banyak terdapat dalam Al Qur'an dan Hadist Nabi. Berkisah adalah salah satu cara efektif menyampaikan pesan moral. Mudah dipahami dan ditangkap oleh orang lain. 

Lalu dengan penyampaian dan coretan penamu kemudian ada yang baperan, merasa tersindir dan sejenisnya. Gak apa-apa, itu haknya, biarkan saja. Jangan ikutan baperan lagi, kan sebelas duabelas namanya. 

Ketika semua cara di atas sudah diupayakan namun setelahnya tetap ada pembenci, nyinyiran, cibiran atau sejenisnya. Tak usah diambil hati. Waktu akan menggilasnya dan semua akan usai. Fokus lah pada sesuatu yang lebih berarti. 

Sekian coretan sederhana ini. Semoga bermanfaat bagi diri dan orang lain. 

Talabiu Bima, 26 April 2022
Ramadan hari ke-25

Senin, 25 April 2022

Jejak Digital dan Catatan Amal


By : Sri Wiyanti


Di era kesejagatan atau globalisasi yang di barengi praktek gombalisasi sekarang ini, berselancar di dunia maya atau di media sosial menjadi sebuah kebutuhan. Kebanyakan orang lebih mampu menahan haus dan lapar dibanding bertahan untuk tidak bermedsos ria. Meski hanya sekedar membuat status-status alay atau komen-komen lebay. 

Artinya hampir setiap individu memiliki jejak digital (digital footprint).
Jejak digital tiap orang berbeda-beda tergantung tujuan dia hadir di media sosial. Apakah untuk berbagi kebaikan dan hal-hal positif, berbagi cerita, mencari teman ataukah sekedar menunjukkan eksistensi diri dan mengharapkan pengakuan publik.

Pribadi dengan tipe positif akan melakukan satu bentuk kebaikan walau sekecil apapun. Sebaliknya pribadi dengan tipe negatif cenderung pada aktifitas ngehoax, mengadu domba atau ngebully atau sederet aktifitas negatif lainnya.

Efek jejak digital dapat menimbulkan kehebohan di dunia maya ataupun di dunia nyata. Melalui jejak digital aktifitas seseorang terpantau sehingga jejak kebaikan ataupun keburukan dapat diketahui oleh orang lain, meski tidak semua jejak digital berpengaruh terhadap kehidupan seseorang.

Rekaman kebaikan sekian tahun yang lalu mungkin saja menjadi viral karena ada pihak yang mengetahui jejak digital seseorang. Entah dengan tujuan politik atau tujuan lainnya. Begitu pula dengan catatan keburukan atau tindakan kriminalitas seseorang. 

Pada banyak kasus, tertangkapnya pelaku pencurian, penipuan, penganiayaan anak di bawah umur, sindikat pengedar narkoba, kasus korupsi, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan hingga perceraian dan banyak kasus lainnya tidak dapat dilepaskan dari kontribusi adanya jejak digital seseorang. 

Mengingat begitu besarnya dampak jejak digital bagi kehidupan seseorang sudah seharusnya kita berhati-hati ketika berselancar di media sosial, pastikan aktifitas kita adalah aktivitas positif dan bertanggung jawab.

Paling ditakutkan jika jejak digital kita menimbulkan ketidakbaikan, berujung pada perpecahan, atau berurusan dengan pihak berwajib dan akhirnya diseret ke pengadilan hingga dijatuhi hukuman.

Apabila jejak digital sedemikian berpengaruh dan mampu membawa perubahan pada kehidupan seseorang lalu bagiamana dengan catatan amal kita yang setiap detik, setiap menit malaikat Allah tidak pernah lalai dalam mencatatnya? 

Jika jejak digital masih bisa dihapus, masih ada celah untuk melakukan lobi-lobi atau pendekatan- pendekatan untuk terhindar dari dampak buruknya, masih berpeluang  meminta maaf untuk mengakhiri permasalahannya, masih ada praktek suap-menyuap untuk terhindar dari jerat hukum, lantas bagiamana dengan pertanggungjawaban di hadapan pengadilan Allah yang semua upaya tidak lagi berguna? 

Bullyan manusia saja sudah sedemikian beratnya untuk dihadapi apakah lagi dengan  neraka Allah yang siap mencampakkan kita dalam puncak kehinaan? 

Masihkah kita merasa aman dengan jejak digital kita, dengan catatan-catatan rahasia  kita di media sosial, sementara jejak yang kita tinggalkan adalah jejak-jejak gelap, penuh maksiat. Boleh saja jejak digital kita lolos dari pengawasan manusia namun tidak akan lepas dari pengawasan Allah. Lantas siapakah yang lebih kita takutkan? Manusia? Ataukah Allah?



Talabiu Bima
Rabu, 19 September 2018
Repost Rabu 26 April 2022

Sabtu, 23 April 2022

Gagal Move On dan Perselingkuhan




By : Sri Wiyanti


Membaca judul ini tentu yang ada dalam benak kita adalah cerita cinta anak remaja atau ABG (anak baru gede) atau anak-anak milenia yang lagi galau karena tak bisa melupakan kekasih atau pacarnya. Bisa juga ingatan kita tertuju pada remaja atau sekelas mahasiswa baru hijrah dan sudah terlanjur memiliki pacar dan dia ingin segera mengakhiri hubungannya sebab menurut pemahaman barunya, pacaran adalah satu praktek yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Tapi saya sama sekali tidak sedang ingin membahas tentang mereka karena sudah menjadi keumuman dan sebuah trand masa kini. Menemui hal semacam ini adalah sesuatu yang kerap kita dapati di lingkungan sekitar kita.

Kali ini saya sedang ingin membahas sosok manusia dewasa bernama suami dan istri, ayah dan ibu yang ternyata juga bisa dihinggapi penyakit baru bernama 
"gagal move on". Satu penyakit serius namun sering tidak disadari diawal munculnya sehingga setelah menjadi parah dan kronis baru terhenyak. Nasi sudah menjadi bubur kata peribahasa, apa hendak dikata pilihan harus ditentukan, keputusan harus diambil, diteruskan atau diakhiri. Mempertahankan keutuhan keluarga ataukah membangun keluarga baru dan bahkan bisa jadi kedua-duanya harus dilepaskan dan semuanya harus hancur berserakan karena sebuah perselingkuhan.

Awalnya sederhana atau bahkan tak terduga. Ketemu secara tak sengaja di acara reunian, atau tetiba dapat nomor kontaknya dari seorang teman, bisa juga tersambung kan di akun facebooknya. Ada juga karena bertemu di suatu kota karena sebuah kunjungan kerja atau acara sejenisnya. Mulailah pembicaraan demi pembicaraan, chattingan demi chattingan. Awalnya sekedar nanya kabar, nanya keluarga, anak-anak, selanjutnya mulailah syaithon memperindahnya dengan pembicaraan lain seperti memuji kecantikan atau kebaikannya, mengingatkan pada moment dahulu, yang pada akhirnya bisa menjadi pembuka sebuah hubungan baru yakni perselingkuhan alias cinta lama bersemi kembali. Na'udzubillah.

Pantaslah ada sebagian orang yang sangat antipati mendengar kata reunian. Sebab kenyataannya reunian dengan teman lama sering kali menjadi pemicu munculnya perselingkuhan ( meskipun ada juga yang memanfaatkan reunian untuk kegiatan positif seperti agenda dakwah, donasi kemanusiaan dan kegiatan bermanfaat lainnya) dengan teman berstatus mantan.

Siapa yang bisa bertahan tak melayang-layang manakala ada orang lain memujinya? Sangat jarang, apalagi perempuan dipuji, ah...kamu masih saja cantik seperti dulu. Kamu memang perempuan idola bahkan hingga usiamu sekarang. Atau misalnya seorang laki-laki mendapatkan pujian, mas...kamu masih saja seperti kita bersama dulu, gagah, perhatian dan berwibawa. Sayang aku tak bisa menjadi pendampingmu. Kalimat kalimat indah pujian ini justru mungkin tidak pernah didengar dari pasangan halalnya. Jadilah hatinya berbunga-bunga, merasa tersanjung, mulai membanding-bandingkan pasangannya dengan sang mantan. Inilah awal terperosoknya ke dalam kubangan dosa. 

Kasus gagal move on dengan mantan tidak hanya  terjadi pada pasangan baru menikah,  kerap terjadi juga pada pasangan yang sudah lama menikah, bahkan memiliki anak-anak yang sudah dewasa. Alasannya bisa beragam, bisa karena terpaksa menikah katanya, pasangannya tidak sesuai harapan, atau karena memang tidak pernah berupaya melupakan bahkan mungkin sebaliknya selalu membangun mimpi-mimpi lama yang tak berkesudahan. Sehingga tiada kebahagiaan dalam rumah tangganya. Bersama namun hati tiada menyatu sebabnya rasa telah berpindah ke lain hati.

Terbuai dengan janji-janji indah yang sebenarnya fatamorgana. Mereka lupa bahwa hidup ini nyata adanya bukan khayalan, dan hidup berlangsung sesuai skenario Yang Maha Mengatur yaitu Allah SWT. Seandainya saja sang mantan adalah yang terbaik untuknya, tentu sudah Allah takdirkan bersanding dengannya, tentu Allah  akan menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan. Namun kenyataannya tidak, karena Allah Maha Tahu, siapa yang lebih baik dan pantas untuk dia.

Bagaimana semuanya bisa terjadi tentunya tidak lain sebab minimnya rasa syukur dan banyaknya berangan - angan. Sibuk mencari cari celah untuk bisa kembali merenda cerita dengan sang mantan hingga lupa bagaimana menciptakan bahagia dengan pasangan halalnya. Jadilah jiwa-jiwa yang gelisah. Di depan mata tak mampu dinikmati dengan rasa syukur sementara hati berkelana jauh memikirkan sesuatu yang tak pasti bahkan hanya menipu. Demikian iblis menggelincirkan manusia pada kesesatan serta memalingkannya dari kebenaran.

Dengan mantan ingat banget kapan ultahnya terkadang ingin menjadi orang pertama yang mengucapkannya. Sementara dengan suami dan istri sendiri jangankan memberikan kado terindah dengan kata-kata mesra, sekedar mengingatpun belum tentu. Dengan mantan bisa catthingan mesra dengan pasangan halal suasana kaku dan gersang ibarat musim kemarau. Kalau sudah seperti ini perlu waspada tingkat tertinggi. Harus ada upaya untuk mengakhiri. Di sini perlu tameng khusus terutama bagi perempuan, sebab alaram kepekaan perasaan antara laki-laki dan perempuan memang berbeda. Perempuan harus lebih cepat menguasai diri, mengendalikan letupan emosi syahwati.  Karena laki-laki dalam kondisi seperti itu bisa buta mata hati. Jangankan yang tak berilmu, yang pahampun bisa tak terkendali

Lalu bagaimana upaya pencegahan agar penyakit gagal move on tidak berlanjut menjadi selingkuhan? Sebab di era digital dengan berbagai kemudahan berkomunikasi ini virusnya demikian mudah hinggap dan menyebar. Yuuuuuk.. lakukan beberapa hal di bawah ini :

1. Sadar diri, pahami posisi, entah sebagai istri ataukah sebagai suami yang sudah memiliki tanggung jawab pada keluarga. Yakinkan bahwa pilihan Allah adalah yang terbaik dan dia adalah pendampingmu saat ini, bukan mantanmu.

2. Tidak membuka peluang untuk menghubungi atau berkomunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung terutama apabila secara pribadi kita menyadari bahwa kita masih memiliki perasaan suka atau harapan terhadap mantan. Tiada yang lebih memahami hati kita melainkan diri kita sendiri, jika ada kekhawatiran terjatuh pada hal-hal yang tidak diinginkan tentunya menghindari terlebih dahulu menjadi langkah bijak.
 
3. Berkomunikasi seperlunya dan sewajarnya saja serta tidak bermudah-mudahan berkomunikasi  atau chattingan secara pribadi dengan lawan jenis terutama yang berstatus mantan, sebab sehebat apapun kita menahan diri virusnya bisa saja menjangkiti.

4.  Menjaga adab-adab islami ketika bertemu teman-teman terutama yang berbeda jenis, menghindari berjabat tangan dengan teman laki-laki, tidak membuka peluang berdua-duaan.

5. Jika sudah terjadi komunikasi atau chattingan yang mengarah pada perselingkuhan maka segera akhiri, istighfar dan bertaubat. Setelah itu segera blokir si mantan.



Talabiu Bima, Ahad 4 Agustus dan Senin 5 Agustus 2019
Repost