Kamis, 19 Oktober 2023

Tugas Modul 1.2 Tentang Disiplin Positif

Tugas Modul 1.4 Koneksi Antar Materi Tentang Budaya Positif.

@Sri Wiyanti
Guru SMPN 1 MONTA KAB. BIMA
Calon Guru  Penggerak Angkatan 9 

Inti pemahaman pada pembelajaran Modul 1.1 Tentang Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional-Ki Hajar Dewantara adalah memaksimalkan segala potensi dan kodrat  pada anak agar mereka dapat mencapai kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat. Sedang pada Modul 1.2  adalah fokus pada Nilai dan Peran Guru Penggerak. Guru penggerak  memiliki nilai Kemandirian, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif serta keberpihakan yang tinggi pada anak. Selain itu guru juga memainkan perannya secara optimal dalam mewujudkan kepemimpinan murid.

Lanjut pada Modul 1.3  diajak mengenali  Visi dan Peran Guru Penggerak. Dengan rancangan visi tersebut kita memiliki acuan langkah mencapai tujuan pendidikan yang sudah dirancang.  Dan pada Modul 1.4 fokus pada menumbuhkan Budaya Positif. 

Mempelajari modul 1.4 tentang Budaya Positif merupakan sesuatu yang istimewa bagi saya. Pada modul ini saya mempelajari tentang disiplin pisitif dan nilai-nilai kebajikan universal. Teori motivasi, hukuman, penghargaan dan restitusi. Keyakinan kelas, kebutuhan dasar manusia dan dunia berkualitas, lima posisi kontrol serta Segitiga Restitusi. Lantas bagaimana keterkaitan antar materi dari modul-modul tersebut? Dapat kita simak pada penjelasan berikut.

Sebagaimana yang sudah saya paparkan di atas bahwa pada modul 1.4 
kita juga mempelajari nilai-nilai kebajikan universal yang juga telah diperkenalkan pada modul 1.2 yang berarti nilai-nilai kebajikan yang disepakati bersama, tanpa membedakan ras, suku, bangsa, agama, bahasa maupun latar belakang sosialnya. Nilai-nilai ini menaungi kita dalam sikap   dan perilaku, dalam arti menjadi landasan berpijak ketika kita memilih  berperilaku tertentu. Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Seperti yang telah dikemukakan oleh Dr. William Glasser pada Teori Kontrol (1984), menyatakan bahwa: 

"Setiap perbuatan memiliki suatu tujuan," dan selanjutnya Diane Gossen (1998) mengemukakan bahwa : "Dengan mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan."

Nilai-nilai kebajikan itu sebagaimana yang kita kenal termaktub dalam Profil Pelajar Pancasila, yakni Beriman dan  bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak Mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Berkebinekaan Global, Bergotong royong, dan Kreatif. Diharapkan nilai-nilai kebajikan inilah yang akan menjadi nilai-nilai karakter yang ingin kita munculkan pada murid kita.

Visi guru penggerak yang berpihak pada murid tentunya menjadi sebuah visi untuk setiap guru menjadi pribadi yang tergerak, bergerak, dan menggerakkan sesama guru agar menjadi agen perubahan paradigma pembelajaran baru yaitu pembelajaran yang berpihak pada murid. Bergerak untuk memperkenalkan budaya positif yang membawa murid kepada perubahan positif.

Pada modul ini saya juga jadi memahami memotivasi seseorang dalam melaksanakan  disiplin ;

1. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
Seseorang yang menjadikan kamus Ini adalah tingkatan paling rendah, lebih rendah dari motivasi perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya? Motivasi ini bersifat eksternal.

2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini orang berperilaku untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Motivasi ini juga bersifat eksternal.

3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. 

Orang-orang yang mampu memberi nilai dengan motivasi inilah yang kita harapkan. Mereka akan melakukan sesuatu karena nilai-nilai yang mereka yakini dan hargai. Motivasi ini merupakan motivasi intrinsik. 
Hukuman bersifat tidak terencana atau tiba-tiba. Anak atau murid tidak tahu apa yang akan terjadi, dan tidak dilibatkan. Hukuman bersifat satu arah, dari pihak guru yang memberikan, dan murid hanya menerima suatu hukuman tanpa melalui suatu kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau sesudahnya. Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun psikis, murid/anak disakiti oleh suatu perbuatan atau kata-kata.

Modul ini juga membelajarkan saya untuk mengetahui perbedaan hukuman, konsekuensi dan segitiga restitusi. Perbedaan tersebut adalah bahwa disiplin dalam bentuk konsekuensi, sudah terencana atau sudah disepakati; sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan guru. Umumnya bentuk-bentuk konsekuensi dibuat oleh pihak guru (sekolah), dan murid sudah mengetahui sebelumnya konsekuensi yang akan diterima bila ada pelanggaran. Pada konsekuensi, murid tetap dibuat tidak nyaman untuk jangka waktu pendek.
 
Konsekuensi biasanya diberikan berdasarkan suatu data yang umumnya dapat diukur, misalnya, setelah 3 kali tugasnya tidak diselesaikan pada batas waktu yang diberikan, atau murid melakukan kegiatan di luar kegiatan pembelajaran, misalnya mengobrol, maka murid tersebut akan kehilangan waktu bermain, dan harus menyelesaikan tugas karena ketertinggalannya. Peraturan dan konsekuensi yang mengikuti ini sudah diketahui sebelumnya oleh murid. Sikap guru di sini senantiasa memonitor murid.

Segitiga restitusi mengajak kita untuk melakukan penanganan kasus/pelanggaran dengan 3 langkah yaitu :

Menstabilkan Identitas

Pada fase ini guru diharapkan mampu mengubah paradigma bahwa murid itu gagal, dan menggantikannya dengan paradigma bahwa murid akan menjadi orang yang sukses

Validasi Tindakan Yang Salah

Pada tahap ini siswa diharapkan mampu mengidentifikasi secara jelas kesalahan yang dia lakukan dengan validasi tentang apa yang sudah dilakukan dan ke depannya memvalidasi alasan apa dia melakukan hal tersebut atau  apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan kebaikan yang diinginkan.

Menanyakan Keyakinan Kelas

Selanjutnya sebagai tahap terakhir ata kertiga menanyakan keyakinan kelas yang sudah disepakati. Apakah keyakinan kelas yang ikut? yg sudah dibuat sebelumnya.
Ketiga Langkah segitiga restitusi ini menjadi sebuah budaya positif untuk kita lakukan

Bima, 19 Oktoner 2023

Kamis, 14 September 2023

SAATNYA ENGKAU MEMINANG BIDADARI PART 2

Saatnya Engkau Meminang Bidadari
(Pesan Cinta Untuk Anak Lelakiku)

By : Sri Wiyanti

Anakku, ketika Allah mengizinkanmu menggenapkan separuh dienmu. Ingatlah pesanku ini.

Perempuan yang akan mendampingimu adalah perempuan seperti aku, ibumu. Maka muliakan dia sebagaimana engkau memuliakanku. Sayangi dia sebagaimana engkau menyayangiku. Pahami kelebihan dan kekurangannya karena tiada perempuan sempurna di dunia ini. Hadirmu lah pelengkap kekurangannya, penyeimbang ketimpangannya. Kau akan menjadikan dia bersinar lebih indah dari sebelumnya. Bersinar dalam ketakwaan dan ketawadu'an.

Anakku!
Menjadi qowwam itu tidak mudah. Tapi dengan dukungannya tugasmu akan dimudahkan oleh-Nya. Kuasamu atasnya tak berarti kau berhak mematahkannya. Justru tugasmu adalah meluruskan kebengkokannya dengan penuh kelembutan dan hikmah.

Perempuan yang kau nikahi tentu memiliki harapan tinggi dengan hadirmu di sisinya, maka perhatikan baik-baik tentang perasaannya. Memenangkan hatinya artinya engkau telah memenangkan seluruh jiwa raganya. Sedikitnya nafkah lahir lebih dia sukai dari berkurangnya perhatianmu akan perasaannya.

Berusahalah memaksimalkan fungsi pelayananmu sebagai pemimpin, niscaya sepenuh keta'atan engkau dapatkan. Perempuan itu unik, namun dia juga teman curhatan paling asyik. Ketika pikiranmu diliputi permasalahan pelik, berbagilah dengannya niscaya engkau akan menemukan solusi.

Ketika kau dihadapkan dengan satu sikapnya yang tak kau sukai percayalah di sebaliknya ada banyak keistimewaan yang belum mampu kau cermati sehingga tak kau temui. Ingatlah selalu komitmen kebersamaan yang sudah kalian bangun niscaya sedikit hambatan tak akan membuat duniamu runtuh apalagi terburu-buru memilih untuk mengakhiri. Semoga tidak pernah terjadi.

Pahamilah olehmu bahwa munculnya hambatan dalam perjalanan kebersamaan hanya tersebab tersumbatnya keran komunikasi. Dengan komunikasi dan diskusi insya Allah selalu  ada solusi dari setiap keadaan dan ujian diri.

Wahai anakku
Perempuan yang kau nikahi  bukan untuk dijadikan  barang pajangan tapi akan menjadi teman seperjuangan. Teman yang akan mendampingimu mengarungi bahtera tidak sebatas perihal urusan dunia tapi tentu dia akan menjadi sahabatmu hingga surga. Bantu dia memoles kecantikan akhlaknya, menata kepantasan dirinya untuk menjadi seorang istri dan ibu yang sholihah. Jadikan dia bangga dan bersyukur telah memilihmu menjadi pemimpin di rumah tangganya.

Talabiu Bima, Ahad 4 Juni 2023
🌺🌺🌺❤❤❤

#MenulisMerawatIngatan
#MenulisMengasahKepekaan
#MenulisMembuatkuSelaluBerpikirPositif

SAATNYA ENGKAU MEMINANG BIDADARI PART 1

Saatnya Engkau Meminang Bidadari
(Pesan cinta untuk anak lelakiku)

Oleh : Sri Wiyanti

Wahai anak lelakiku. Saat itu kelak akan datang. Waktumu untuk melamar Sang Bidadari impian hati. Namun sebelum saatnya tiba persiapkan dirimu sebaik yang kau ingin pada calon bidadarimu nanti.

Saatnya engkau memutuskan untuk melamar. Pastikan kau melangkah dengan mantap. Kesungguhanmu itu yang ditunggu-tunggu. Lamaran bukan ajang coba-coba. Atau hanya untuk memberi harapan semata.

Perempuan memang menghajatkan ketampanan. Tapi tanggung jawab itu lebih dia harapkan. Karena engkau lah nanti yang akan memikul sepenuhnya tanggung jawab ayahnya setelah ijab qabul diucapkan.

Bila tiba kesempatan ta'aruf. Percayakan kepada orang yang amanah. Agar informasinya akurat.  Kau boleh melihatnya. Karena memilih pasangan tentu tidak seperti membeli kucing dalam karung. Tapi ingat wahai anak lelakiku. Pilihan akan kau jatuhkan bukan semata-mata perkara fisik. Kecantikan fisik bisa dipoles. Kecantikan akhlak tidak bisa dibeli di salon kecantikan mana pun.

Kau berhak memilih karena kecantikannya. Juga karena nasab kebangsawanannya. Atau tersebab hartanya. Tetap harus kau ingat. Memilih karena agamanya lebih selamat.

Perempuan yang baik agamanya, tak risau dengan sedikitnya harta. Ia memiliki sifat qona'ah. Ia sabar mendampingimu kala suka. Ia tawadu' disaat kau bergelimang harta. Dengan diennya dia akan menjaga hartamu. Kehormatanmu. Kala dekat ataupun jauh.

Tentang harta, tahta, jangan jadikan penghalang. Karena kau tidak sedang berniaga. Bukankah rezekimu telah Allah jamin? Lalu apa yang engkau khawatiri?

Perempuan yang kau cari tak harus seperti ibumu. Karena ia pribadi yang berbeda. Namun pilihlah ia yang kelak pantas untuk menjadi ibu bagi anak-anakmu. Menjadi madrasah terbaik di rumah tanggamu.

Jika harapanmu menginginkan yang sempurna. Selamanya tak akan bersua. Ujungnya kau akan kecewa.

Jika impianmu adalah sosok penyayang. Perempuan yang memuliakanmu. Memposisikanmu layaknya seorang pemimpin. Menghormati dan mencintai keluargamu. Maka jawabannya ada padamu. Karena engkaulah yang memegang kunci kendalinya.

Talabiu Bima, Selasa, 31 Mei 2022

Jumat, 01 September 2023

Tugas Modul 1.1


Assalamu'alaikum Warohmatulohi Wabarakatuh. 

Pada kesempatan ini saya akan memaparkan salah satu tugas Modul 1.1 Tentang :

Konektivitas Antar Materi Berupa Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Oleh : Sri Wiyanti, S. Pd.
Guru SMPN 1 MONTA KAB. BIMA

Menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan adalah tempat persemaian  benih-benih  pendidikan dan kebudayaan. Ki Hajar Dewantara membedakan Kata pendidikan dan Pengajaran, (Pengajaran adalah bagian dari Pendidikan). Pendidikan memberi tuntunan sesuai kodrat yang dimiliki anak agar mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat.

Dalam menuntun kodrat anak, guru ibaratkan seorang petani. Mencoba memberi ruang tumbuh kembang yang sesuai dengan maksimal. Anak diberikan kebebasan namun seorang pendidik tetap menjadi pamong, mendampingi dan mengarahkan potensi anak didik. 

Pendidikan anak itu harus disesuaikan dengan tempat di mana mereka tumbuh (kodrat alamnya) dan tuntutan masa atau zamannya (kodrat zaman). Meski anak didik diberikan kebebasan memilih dan menentukan cara terbaik bagi pengembangan potensi dirinya, dalam interaksinya anak didik harus
mampu memfilter pengaruh buruk dari luar sehingga tidak membawa implikasi negatif bagi tumbuh kembangnya. 

Analoginya, jika menanam jagung maka perlakukanlah dia sebagai jagung, jangan memperlakukannya seperti padi atau tanaman lain. Dan bila ingin jagung itu tumbuh secara maksimal maka biarkan dia tumbuh dengan cara dan tempat yang semestinya. Gulma dan aneka tanaman pengganggu cukup disiangi dan dibersihkan agar tanaman tetap tumbuh dan menghasilkan secara maksimal. Demikian pula dalam mendidik anak. 

Sebagai seorang pendidik saya memosisikan diri sebagai layaknya seorang  tukang kebun. Dan anak didik ibaratkan berbagai jenis tanaman bunga aneka rupa. Mereka diperlakukan sesuai kebutuhan tumbuh kembangnya sehingga pada saatnya mereka akan menguncup dan mekar sempurna dengan warna-warni indah mengagumkan. Menebar kemanfaatan bagi diri dan lingkungannya. 

Prinsip seorang Pamong, dalam hal ini adalah sebagaimana semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. Di depan menberikan contoh keteladanan yang baik, di tengah mendampingi dengan berjuta ide dan gagasan membangun serta di belakang memberikan dorongan memantik semangat. 

Pendidikan adalah sebuah proses yang harus terus berlangsung, memerlukan kerjasama yang sinergis dari semua pihak untuk mewujudkannya karena merupakan pekerjaan untuk menjemput peradaban sehingga prosesnya tidak boleh terhambat. 

Bagaimana penerapan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara ini dalam konteks pembelajaran lokal masyarakat Bima? Praktik ini dapat kita temukan pada interaksi di masyarakat dalam berbagai aktivitas keseharian seperti pada serangkaian kegiatan 'mbolo weki' yang umumnya dijumpai pada rangkaian upacara perkawinan, khitanan, selamatan berangkat haji dan masih banyak lagi kegiatan semisal. 

Lebih khusus di lingkungan sekolah berupa pembiasaan  menggunakan budaya tutur yang baik seperti 'Maja labo Dahu, Kalembo Ade, Santabe, dan juga penerapan konsep kepemimpinan sebagaimana yang dikenal dengan istilah 'Nggusu Waru' dalam masyarakat Bima ( Dou Mbojo).


Sebagai refleksi terhadap pemikiran Ki Hajar Dewantara saya akan mencoba memaparkan dengan panduan pertanyaan di bawah ini. 

1. Apa yang anda percaya tentang murid dan pembelajaran sebelum mempelajari modul 1.1? 

Konsep pedidikan pemikiran Ki Hajar Dewantara ini sebenarnya bukanlah satu hal yang asing atau baru. Karena sebelum saya mengikuti kegiatan Calon Guru Penggerak Angkatan 9 saya sudah sering mendengar dan membaca konsepsi ini. Berawal dari kebiasaan saya yang suka membaca, sehingga ketika  mendengar ada hal-hal baru terkait pendidikan membuat saya terdorong untuk mencari tahu. Dengan dasar itu saya mulai menerapkannya pada murid-murid saya. Meski sesederhana mungkin menyesuaikan dengan kondisi sekolah dan kesiapan peserta didik. 

Saya meyakini bahwa setiap manusia telah dibekali potensi kebaikan dan juga keburukan. Demikian juga dengan peserta didik. Sebagai Guru tugas saya adalah berusaha menemukan potensi kebaikan itu dan mengasahnya dengan baik agar tajam. Dengan tajamnya potensi kebaikannya maka potensi negatif dengan sendirinya akan terkalahkan. 

Menyadari hal tersebut, saya memandang peserta didik bukanlah kertas kosong yang dapat kita corat-coret semau kita. Namun sekali lagi kesadaran tersebut masih memerlukan penguatan karena tanpa saya sadari masih sering mengagung-agungkan nilai kognitif atau angka-angka pada lembar tugas mereka. Masih sering merasa kecewa dengan peserta didik yang kurang memenuhi target-target nilai yang sudah sedemikian saya rancang. 

2. Apa yang berubah dari pemikiran dan perilaku anda setelah mempelajari modul ini. 

Setelah mempelajari modul 1.1 tentang Konsep Pemikiran Ki Hajar Dewantara, apa yang saya pahami sebelumnya akhirnya mendapatkan penguatan. Saya semakin berusaha untuk menjadikan pembelajaran yang berpusat pada murid. Pembelajaran  yang menumbuhkan  karakter positif. Lebih banyak mendengarkan mereka. Lebih banyak memberi ruang bagi mereka untuk menyampaikan keinginannya. Tidak mudah terpancing dengan sikap-sikap negatif yang ditunjukkan, namun justru menjadikannya kesempatan untuk mencoba melihat sisi positif di sebaliknya. Dengan mengarahkan serta menuntun mereka ke arah nilai-nilai kebaikan. 

Secara pribadi saya semakin serius menyiapkan diri, mengasah kemampuan pada banyak kompetensi yang belum saya miliki sebelum saya mengajak anak didik untuk berubah. Keteladanan harus dimulai dari saya sebagai guru agar ketika berbicara maka akan menjadi sangat efektif untuk dicontohi. 

Mencoba mengembangkan pembelajaran yang inovatif dan kolaboratif dalam kelompok-kelompok diskusi kecil. Memantik rasa percaya diri peserta didik dengan pemberian tugas secara bergilir, mengerjakannya dengan sinergis, memberi kesempatan seluas-luasnya bagi mereka untuk mengkomunikasikan hasil tugasnya di depan kelas sehingga menghadirkan sikap optimistis.

Dari pembelajaran di modul 1.1 ini saya merasa termotivasi secara pribadi karena potensi saya sebagai guru juga ikut terekspos dengan tagihan tugas-tugas yang variatif dan menantang. Dipacu untuk memaksimalkan kemampuan yang ada pada diri dengan menggali terlebih dahulu potensi diri sebelum menularkannya kepada orang lain. 

Satu hal lagi yang semakin saya sadari bahwa untuk keberhasilan pendidikan, baik lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat harus ada kesamaan visi dan misi. Ada jalinan komunikasi yang selaras dalam mewujudkan visi dan misi pendidikan. Salah satu dari ke tiganya tidak boleh abai dalam memainkan perannya masing-masing. Bahu-membahu memberikan kontribusi bagi kemajuan pendidikan. 

3. Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas anda mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara?

Seperti yang sudah saya jelaskan pada dua poin di atas, bahwa inti dari pemikiran Ki Hajar Dewantara ini sebenarnya sudah saya pahami dan sudah saya lakukan dalam kelas-kelas belajar selama ini. Hanya saja belum maksimal. Karenanya setelah mendapat materi yang lebih lengkap dan pemahaman saya lebih komprehensif terkait hal tersebut maka saya memiliki tekad yang kuat untuk segera mengaplikasikannya dengan lebih baik, dan lebih terarah dalam pembelajaran di kelas. 

Saya akan berusaha lebih fokus pada apa yang diinginkan dan dibutuhkan peserta didik dalam pembelajaran. Dengan tetap menekankan pada pentingnya adab dan akhlak terpuji sebagai penghias dari ilmu pengetahuan yang dimiliki. 

Saya ingin lebih bisa mengedepankan prasangka baik dengan apa pun kondisi peserta didik yang saya temui. Mengasah kepekaan, melibatkan seni dalam mendidik serta menghadirkan cinta. Karena pekerjaan mendidik sesungguhnya kita sedang mengisi ruang-ruang hati peserta didik dengan ilmu yang kita harapkan kelak bermanfaat baik dirinya dan orang lain serta masyarakat luas. Pendidikan yang melibatkan rasa cinta pasti akan lebih dapat diterima dan melekat kuat di hati peserta didik. 

Berbekal kemampuan yang saya miliki, saya tetap ingin menjadikan kelas-kelas yang kondusif, di mana peserta didik diharapkan tak hanya cerdas dan berkarakter baik namun juga menikmati proses belajarnya dengan bahagia.


Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. 

Terima kasih. 
Salam Guru Penggerak! 

Tergerak, bergerak, menggerakkan. 

Wassalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh.

KONSEP KEPEMIMPINAN PADA FILOSOFI NGGUSU WARU

Sebuah Konsep Kepemimpinan Pada Filosofi Bima Nggusu Waru

Oleh ; Sri Wiyanti, S.Pd.

Secara definisi Nggusu Waru adalah sebuah tradisi sosial berupa budaya tutur pada masyarakat Bima (Dou Mbojo) yang diwariskan secara turun temurun, berupa sebuah harapan untuk mencapai sebuah cita-cita mulia, yakni terciptanya sebuah masyarakat madani.

Nggusu berarti sudut dan Waru berarti delapan. Sebuah filosofi yang menggambarkan delapan sudut pandang  kehidupan orang Bima yang memuat nilai moral, budaya dan serta agama yang tentu bersumber dari pemahaman ke Islaman yang kental dari masyarakatnya. 

Delapan dimensi universal yang dianut oleh masyarakat Bima ini adalah ;

1. To'a di Ruma ro Rasu (taat) 
Kalimat yang memiliki makna mendalam akan kewajiban untuk mena'ati Allah dan Rasul-Nya dalam peribadatan atau pun dalam interaksi sosialnya. 

2. Maloa ro ma Bade (cerdas) 
Artinya menunjuk pada pentingnya proses belajar, menuntut ilmu sehingga orang Bima harus memiliki kecerdasan dan wawasan yang luas. 

3. Mantiri Nggahi ro Kalampa (jujur
Adanya kesamaan serta keselarasan antara kata dan perbuatan. Di dalamnya secara inplisit ada nilai kejujuran yang harus dijunjung tinggi. Menggambarkan karakter pribadi yang dapat dipercaya. 

4. Mapoda Nggahi ro Paresa (adil) 
Senantiasa berkata benar dan berpihak pada kebenaran. Menetapi rasa keadilan bagi semua orang tanpa memandang bulu atau membeda-bedakan status sosial. 

5. Mambani ro Disa (Bertanggung jawab) 
Mambani di sini secara bahasa berarti pemarah. Namun dalam konteks Nggusu Waru maknanya lebih kepada adanya sifat kesatria, membenci perbuatan melanggar norma adat, budaya lebih-lebih agama. Memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap amanah atau tugas yang diemban. 

6. Matenggo ro Wale (sehat dan kuat) 
Menggambarkan keharusan bagi orang Bima untuk memiliki fisik yang sehat lagi kuat. Sehat paripurna antara jiwa dan raga. 

7. Ma Bisa ro ma Guna (berwibawa dan berpengaruh) 
Jika dimaksnai langsung arti katanya berarti berwibawa dan sakti. Wibawa yang muncul dari berkumpulnya nilai-nilai ketaatan, kecerdasan, kejujuran dan karakter positif lainnya. Serta kesaktian dalam pengertian tutur kata serta prilakunya memberi pengaruh luas. Apa yang diucapkan dan dilakukan akan mendapat  tanggapan dan dukungan dari orang lain karena senantiasa menebar manfaat bagi lingkungannya. 

8. Londo Dou Mataho (Keturunan yang baik) 
Kalimat pamungkas ini menunjuk pada sikap moral yang baik. Melihat kemampuan seseorang berdasarkan keturunannya. Seperti dalam budaya Jawa kita mengenal istilah menilai seseorang dari bibit, bobot dan bebetnya 

Filosofi Nggusu Waru yang diusung masyarakat Bima atau Dou Mbojo merupakan sebuah nilai universal yang cocok diterapkan dalam semua lini kehidupan. Apabila kita tarik korelasi filosofi Nggusu Waru dengan filosofi Ki Hajar Dewantara terkait semboyan Ing Ngarsa Sung Tolodho, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani keduanya seiring sejalan, sama-sama menjadi rel perjalanan hidup yang lurus dan kokoh. 

Jika pada Filosofi KHD memberikan rambu-rambu tentang bagaimana seseorang berbuat atau berlaku sebagai bagian dari masyarakat atau terkait dengan tugas kepemimpinannya, maka pada filosofi Nggusu Waru lebih pada penekanan tentang bagaimana karakter yang harus ada pada diri seseorang, pada semua bidang profesi yang diemban, lebih-lebih mereka yang diamanahi tugas kepemimpinan.

Filosofi Nggusu Waru dalam kehidupan lingkungan sekolah perlu diterapkan sehingga lestari sebab di dalamnya ada nilai ketaatan/religius, nilai kejujuran, nilai keadilan, tanggungjawab,  kepemimpinan dan budi pekerti yang harus dimaknai dan diaplikasikan secara mendalam oleh anak-anak dalam kehidupan nyata. 


Talabiu Bima, 24 Agustus 2023

Sebagai penutup izinkan saya membacakan sebuah puisi tentang NGGUSU WARU. Salah satu puisi saya yang dimuat di Harian Lombok Pos. 

Nggusu Waru


By : Sri Wiyanti


Agung
Tradisi mulia
Dana mambari mengusungnya
Cita Citra Dana Mbojo


Taqwa
Penyanggah utama
Loa ro bade mengokohkan
Ruku ro rawi menghias indah


Jaga
Nggahi ro eli
Perjuangkan mori ra woko
Mbani ro disa menjadi tamengnya


Keta'atan
Langkah ikhtiar
Dunia dikecap sewajarnya
Mendulang pahala bermuara ridho-Nya


Taqwa
Erat mendekap
Filosofi Nggusu Waru
Dana Mbojo pasti maju



Catatan di perjalanan sepulang sekolah
Bima, 24 Maret 2022

Minggu, 18 Desember 2022

MENGGALI PENGALAMAN PRIBADI SEBAGAI IDE MENULIS



 Oleh : Sri Wiyanti

Semua ada masanya, tugasku adalah mempersiapkan diri menjemput masaku dengan kebaikan dan hal-hal positif. Mempersiapkan diri untuk sesuatu yang baik tidak akan membuat kita rugi. Justru ketika masanya tiba, kepercayaan itu datang, amanah akan mudah kita tunaikan. 

Berawal dari undangan DILOVA VOL. 2. Berlanjut pada kegiatan mengisi PODCAST POJOK LITERASI BERADAB. Tanpa diduga ternyata berlanjut lagi dengan kegiatan DILOVA VOL. 3 di hari yang sama. 

Pada Allah tentu pertama ucap syukur kupanjatkan. Sebab tanpa izin dan skenario-Nya tentu kepercayaan ini tidak akan pernah menghampiri. Bersyukur pula bertemu dan mengenal orang-orang positif sehingga terpercik pula kebaikan pada diri kita. Tidak merugi berada dalam lingkaran kebaikan meski menurut penilaian manusia terlihat remeh temeh.

Berbagi tips-tips menulis bagi pemula. Mencoba menggali pengalaman pribadi untuk menjadi ide menulis menjadi topik menarik. Mudah dan terjangkau dan tentu menghindarkan kita dari plagiasi. Sangat tepat untuk penulis pemula. 

Bagaimana langkah-langkahnya?

1. Ketika memilih tema pengalaman pribadi, maka langkah pertama adalah memilih pengalaman yang benar-benar bisa membangkitkan emosimu. Bisa tentang sesuatu yang sangat menyenangkan, menyedihkan, menegangkan, sangat lucu atau keadaan lain yang sangat mempengaruhi pikiran, tindakan dan hatimu. 

2. Selain menggali pengalaman yang dapat memantik emosi. Kita tentu pernah berada pada suatu keadaan di mana kita harus memilih. Pilihan keputusan ini adalah sesuatu yang sangat berpengaruh  terhadap masa depan kita. Dan ini dapat menjadi salah satu ide menulis pengalaman pribadi. 

3. Langkah yang tidak kalah penting adalah, membuat outline dari tulisan yang akan kita buat. Outline ini akan memudahkan kita dalam mengembangkan alur tulisan. Selain itu berfungsi ketika kita kehilangan ide, catatan pada outline ini akan memandu memberikan gambaran kelanjutan dari naskah yang akan kita buat. 

Tentu saja outline ini tidak harus berurutan karena tergantung dengan alur cerita yang kita pilih. Apakah alur maju atau alur mundur. Dan bisa juga memadukan keduanya. 

4. Pengalaman pribadi tiap orang tentu banyak dan beragam. Agar fokus dalam menulis maka pilihlah satu pengalaman yang sangat berkesan sehingga ketika menuangkannya dalam tulisan akan mampu mencapai klimaks yang memuaskan bagi kita sebagai penulis dan tentu saja muaranya juga pada kepuasan pembaca. 

Tentu dari setiap tulisan yang kita buat, satu yang tidak boleh terlupakan adalah pesan kebaikan yang ingin kita sampaikan. Amanat yang kita selipkan karena itu lah kata kunci dari menulis.  Menjadi sarana menyampaikan ide-ide kebaikan sehingga menular pada setiap pembaca. 

Semoga tips singkat ini bermanfaat. 

Kegiatan Dialog Literasi Inovasi dan Pembuatan Karya Literasi
Vol. 3
Kampus  STKIP TAMSIS Beradab. 
Rabu, 23 November

Ruang kelas sembari mengawas PAS. 
Tangga, 08 Desember 2022

Senin, 20 Juni 2022

Mengenal Puisi Patidusa

 
Oleh : Sri Wiyanti

Perkembangan puisi modern di Indonesia memiliki banyak warna. Salah satunya adalah puisi Patidusa. Kehadiran puisi Patidusa memperkaya khazanah puisi modern di tanah air. 

Puisi Patidusa baru dipublikasikan pada tanggal 9 Agustus 2015 oleh Agung Wibowo. Hanya saja jenis puisi ini baru dikukuhkan delapan belas hari kemudian yakni pada tanggal 27 Agustus 2015.

Perbedaan mendasar puisi Patidusa dengan puisi klasik adalah pada tipografi (susunan larik-larik sajak) puisinya. Meski demikian tidak mengurangi nilai keindahan dan eksistensinya sebagai salah satu jenis puisi modern. Justru kehadirannya memberi dinamika tersendiri bagi dunia perpuisian di Indonesia. Mempercepat arus revolusi sastra. 

Patidusa merupakan karya dari seorang pemuisi bernama Agung Wibowo. Di mana puisi ini adalah sebuah perubahan evolusi dari puisi sebelumnya, yakni Lipatdus (Lima, empat,tiga, dua, satu).
Penyematan nama Patidusa justru diberikan oleh temannya bernama Agus Supriyadi. Penamaan yang disesuaikan dengan format puisinya yakni 4 (empat) kata, 3 (tiga) kata, 2 (dua) kata dan 1 (satu) kata. 


Jenis Puisi Patidusa

Puisi Patidusa memiliki empat (4) formasi atau bentuk :

1 Patidusa Asli/Original dengan susunan 4-3-2-1, 1-2-3-4, 4-3-2-1 dan seterusnya. 

Contoh :

Tentang Kita

Debur ombak memecah pantai
Semilir angin menyejukkan
Dua hati
Berpadu

Syahdu
Membuai kalbu
Dua hati berjanji
Untuk saling setia membersamai

Pantai ini jadi saksi
Ketika ikrar terucap
Rekatkan ikatannya
Setia

Bila
Kemurniannya diuji
Ikhlaskan adalah kuncinya
Mendekat padanya menjadi solusi

2. Patidusa Bias dengan susunan :
1-2-3-4, 4-3-2-1,1-2-3-4 dan seterusnya. 

Contoh :

Membasuh Luka

Sakit
Menukik ke hati
Menyisakan luka menganga
Lisan mengoyaknya melampaui belati

Rasa itu hanya menyakiti
Usah simpan di hati
Biarkan pergi
Hempaskan

Lari
Menjauh pergi
Memintal benang kemaafan
Hingga lara terlerai masa

Pada-Nya kita kembali memasrahkan
Mendekap mesra keikhlasan
Merengkuh takdir
Damai

3. Patidusa Cemara dengan susunan 
1-2-3-4, 1-2-3-4,1-2-3-4 dan seterusnya. 

Contoh 1

Lelaki Tua

Luruh
Bersama peluh
Meski raganya rapuh
Tiada pernah lisannya mengeluh

Dia
Lelaki tua
Pejuang nafkah keluarga
Pada pundaknya bergantung bahagia

Bila
Bahagia menyapa
Pada ringkih langkahnya
Mengharap kuasa Pemilik Semesta

Bersyukur
Penguat jiwanya
Dunia hanyalah sesaat
Persinggahan jalan menuju keabadian

Saatnya
Siapkan bekal
Iman dan taqwa
Sebaik-baik bekal perjumpaan dengan-Nya


Contoh 2

RIMPU

Rimpu
Tembe nggoli
Mantika kala lomba
Makani sampela ntika moci

Rimpu
Mabonto kamoci
Honggo mame'e kalili
Pai daeda badou malelu

Rimpu
Desena syari'at
Bune kalea ntara
Dana Mbojo mana'e ntoru

Rimpu
Makantika majaga
Siwe mantika matupa 
Makakimbi taroa bune amarai

Rimpu
Tajaga kasama
Paida mborana dieda
Su'u sawa'u sia sawale

Talabiu Bima, 2 April 2022
1 Ramadhan 1443 Hijriah


4.Patidusa Tangga dengan susunan
4-3-2-1, 4-3-2-1, 4-3-2-1 dan seterusnya.


Pemenang

Malam pekat merayap perlahan
Mengisahkan perihnya luka
Tersimpan rapi
Rahasia

Seonggok hati terkapar lemah
Noda pekat menghiasnya
Gumpalan dosa
Mematikan

Meronta takkan menghapus duka
Istigfar sucikan kekalutan
Pilih jalanmu
Pemenang

Meski terseok tertatih merintih
Tapaki sepenuh sabar
Itu jalan-Nya
Ikhlaskan


Bagaimana membuat Puisi Patidusa

Keindahan bentuk Puisi Patidusa terletak pada susunannya yang meliputi sayap dan kerucut. Jenis Puisi Patidusa memiliki ciri khas yang apabila dibaca dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas pada baitnya tetap memiliki makna yang sama. 

Bentuk standar Puisi Patidusa:

A A A A

B B B

C C

D

E

F F

G G G

H H H H

Jumlah bait Puisi Patidusa

Sedikitnya adalah 2 (dua) bait dan 4 (empat) formasi pada penulisan Puisi Patidusa. Manakala belum menemukan format yang pas maka dapat diubah ke dalam bentuk lain. Tentu dengan tetap memperhatikan nilai keindahan, rasa, rima, runut dan imaji dalam puisi. 

Kesalahan Memaknai Puisi Patidusa

πŸ€ Memaknai sebagai sebuah penggalan kalimat. 
Bahwa puisi Patidusa bukanlah sebuah kalimat yang di potong. Tiap baris dari baitnya saling melengkapi bersatu padu. Namun baris-baris baitnya seperti memiliki makna yang berdiri sendiri. Baris sesudah atau sebelumnya seakan saling menjelaskan makna. 

πŸ€ Penggunaan kata hubung
Penggunaan kata hubung pada akhir baris menimbulkan asumsi pemenggalan kalimat yang menggantung makna puisi. 

Contoh salah :

Mendekapmu
Mimpiku yang
Ingin kulukis senyatanya
Melangit pintaku meraih asa

πŸ€ Penggunaan tanda elipsis
Puisi Patidusa tidak menggunakan tanda elipsis karena mempengaruhi keindahan pada kalimat puisinya. Cukup menggunakan tanda koma (,). 

πŸ€ Menghitung pengulangan kata menjadi dua kata. 
Pengulangan kata sempurna dan atau yang berawalan depan dihitung satu kata. 

Contoh :

Angan-angan
Anai-anai
Kanak-kanak
Sepoi-sepoi

Penulisannya bisa juga tanpa menggunakan tanda hubung misalnya : Anganangan, Anaianai, Kanakkanak, Sepoisepoi. 

Sedangkan pengulangan kata yang berubah bentuk dihitung 2 (dua) kata. 

Contoh ; 

Bintang gemintang
Kusut masai 
Tumpang tindih
Tumpah ruah